Sabtu, 17 Januari 2026
Ekbis, Home  

Realisasi Investasi TW III 2025, Sulteng Urutan 3 Nasional

Realisasi Investasi TW III 2025, Sulteng Urutan 3 Nasional
Bincang Akhir Tahun 2025 yang digelar PWI Sulteng bekerja sama dengan Kantor Perwakilan BI Sulteng, Kamis (27/11/2025), di Hotel Paramasu, Kota Palu. Foto: Teraskabar.id

Palu, Teraskabar.id – Realisasi Investasi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Triwulan (TW) III tahun 2025 mencapai Rp33,4 Triliun dengan kontribusi 6,18% terhadap investasi nasional. Capaian ini menempatkan Sulawesi Tengah di posisi ketiga nasional, di bawah Jawa Barat sebesar Rp77,1 Triliun dan DKI Jakarta Rp63,3 Triliun.

“Selama periode 2025, realisasi investasi Sulteng  mengalami fluktuasi. Pada TW I tahun 2025, realisasi investasi Sulteng mencapai Rp32,7 Triliun. Memasuki TW II mengalami perlambatan menjadi Rp31,6 Triliun, lalu kembali menguat menjadi Rp33,4 Triliun,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah, Mukhtarom pada Bincang Akhir Tahun 2025 yang digelar PWI Sulteng bekerja sama dengan Kantor Perwakilan BI Sulteng, Kamis (27/11/2025), di Hotel Paramasu, Kota Palu.

Empat narasumber dihadirkan pada kegiatan yang mengangkat topik utama “Mengurai Benang Kusut Investasi, Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Sulawesi Tengah, dengan mengangkat tema Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan”. Yaitu, Wijaya Chandra, ketua Apindo Sulteng; Teguh Ananta, Fungsional Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulteng;  Prof Ahlis Djirimu, Dosen Untad; dan  Mukhtarom, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulteng.

Mukhtarom menambahkan, mayoritas Investasi di Sulawesi Tengah pada triwulan III 2025 ada di bidang hilirisasi, khususnya industri pengolahan logam dasar berbasis nikel yang padat modal, yaitu sebesar 85,92% dari realisasi investasi di Sulawesi Tengah .

Komponen terbesar dalam perekonomian Sulteng berasal dari Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dengan porsi sebesar (41,54%). Disusul Konsumsi Rumah Tangga memberi kontribusi 28,15 %, Net Ekspor 21,49%, Konsumsi Pemerintah 6,84% dan lainnya 1,98%.

Pada triwulan III 2025, lapangan usaha industri pengolahan  tumbuh sebesar 12,56% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 12,14% (yoy) dengan kontribusi 41,18% terhadap realisasi investasi. Akselesrasi lapangan usaha industri pengolahan didorong oleh perbaikan harga komoditas nikel, utamanya Nikel Pig Iron (NPI) yang mencapai sekitar Rp30 Triliun atau mengalami kenaikan sebesar 4,44% (qtq) seiring dengan musim puncak konsumsi tahunan stainless steel di Tiongkok dari awal akhir Agustus hingga awal Oktober.

  Gubernur Sulteng Akan Resmikan Jalan Lingkar Kepala Burung di Banggai Sepanjang 36,4 Km

Kenaikan harga mendorong produsen meningkatkan produksi, tercermin dari pertumbuhan produksi NPI sebesar 18,39% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya (15,62% yoy). Pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan juga didukung oleh permintaan NPI oleh Tiongkok yang tumbuh 28,83% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (19,23% yoy).

Teguh Ananta, Fungsional Madya Dinas PMTSP Sulteng Sulteng memaparkan capaian realisasi investasi selama periode 2022 – September 2025. Ia mengungkapkan, target investasi Sulteng kurun waktu 2022 hingga 2024, rata-rata dua kali lipat dari target tahun sebelumnya dan selalu tercapai, bahkan melampaui target. Pada 2022 misalnya, target investasi adalah 53,09 Triliun dan terealisasi sebesar 111,18 Triliun. Kondisi yang sama pada 2023 dan 2024. Target investasi pada 2023 sebesar 111,68 Triliun dan terealisasi sebesar Rp111,98 Triliun. Sedangkan pada 2024, target investasi sebesar 131,62 Triliun dan terealisasi Rp139,88 Triliun.

Begitupula pada 2025, target realisasi investasi Sulteng naik sebesar 23,51% dari target realisasi investasi tahun sebelumnya. Hingga saat ini, capaian realiasi investasi terhadap target tahun 2025 sebesar 60,04%.

“Kami masih optimis target tercapai walau data per TW III, capaian realisasi dari target baru mencapai 60,04% yaitu di angka 97,61 Triliun,” ujar Teguh.

Dalam catatan BI menyebutkan bahwa dominasi sektor padat modal seperti industri nikel pada porsi perekonomian Sulawesi Tengah, memberikan beberapa risiko.

Pertama, Rawan terpengaruh dinamika eksternal. Ketergantungan terhadap satu sektor perekonomian utama dapat menyebabkan perekonomian kurang berdaya tahan dan rawan terpengaruh terhadap dinamika eksternal. Dalam hal Sulawesi Tengah, utamanya dapat terpengaruh oleh kondisi mitra dagang utama yaitu Tiongkok.

Kedua, Normalisasi pertumbuhan. Kinerja perekonomian yang telah tumbuh tinggi pada tahun tahun sebelumnya menyebabkan ruang akselerasi pertumbuhan menjadi semakin terbatas. Untuk tetap mendorong pertumbuhan, dibutuhkan sumber pertumbuhan baru di luar sektor dominan.

  Respon Aduan Warga Sulewana, Pakar ITB dan Satgas PKA Sulteng Tinjau PLTA Poso Energy

Ketiga, Trickle Down Effect yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor padat modal cenderung menghasilkan trickel-down effect yang terbatas, tercermin dari penurunan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan yang relatif lambat. Sumber ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan perlu terus didorong untuk meningkatkan pembangunan manusia.

Sumber Ekonomi Baru

Sulawesi Tengah memiliki produk unggulan dari sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Sektor-sektor ini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Sulteng tanpa harus terlalu mengandalkan sektor pertambangan.

“Sebenarnya Sulteng itu kaya,  tidak hanya dari nikel dan pertambangan hilirisasi tapi banyak dari produk produk unggulan lainnya,” ujar Mukhtarom.

Di sektor Perkebunan, Sulawesi Tengah memiliki komoditas unggulan yang bisa menjadi sumber ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan berdasarkan hasil identifikasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulteng.

Kelapa sawit di antaranya, produksi kelapa sawit Sulawesi Tengah menduduki posisi kedua di Sulampua, total produksi 143 ribu ton  dan berkontribusi sebesar 24,39%. Tiga daerah terbesar penghasil Kelapa Sawit yaitu Morowali (47 Ribu Ton), Banggai (35 Ribu Ton), dan Donggala (19 Ribu Ton).

Komoditas unggulan lainnya adalah, kelapa yang menduduki posisi 3 di Sulampua, total produksi 193 ribu ton dan berkontribusi sebesar 19,10%terhadap Sulampua. Tiga daerah pemasok kelapa terbesar di Sulteng yaitu, Banggai (51 Ribu ton), Parigi Moutong (35 Ribu Ton), dan Tojo Unauna (33 Ribu Ton).

Kakao juga merupakan komoditas unggulan karena menempatkan Sulteng pada posisi pertama nasional dengan total produksi  125 Ribu Ton dan berkontribusi  19,71% secara nasional. Tercatat 3 kabupaten penghasil kakao terbesar di Sulteng  yaitu, Parigi Moutong (28 ribu Ton), Poso (23 Ribu Ton), Sigi (19 Ribu Ton).

Terakhir, Biji Kopi menempatkan Sulteng pada posisi keempat di wilayah Sulampua dengan total produksi 3,31 ribu Ton dan berkontribusi 6,75% terhadap produksi biji kakao di Sulampua. Poso (738 ton), Sigi (500 ton) dan Banggai (500 ton) merupakan daerah penghasil kakao terbesar di Sulteng.

  OJK Sulteng Edukasi Warga Sigi Keuangan Syariah

Pada Sektor Tanaman Pangan, produksi beras Sulteng  tercatat 450 Ribu Ton dan menempatkan Sulteng pada posisi kedua di wilayah Sulampua dengan kontribusi 16,67%. Tiga daerah penghasil beras di Sulteng yaitu, Parigi moutong (149 ribu ton), disusul Banggai (94 rib ton), dan Sigi (49 ribu ton).

“Tercatat 1.937 penggilingan di Sulawesi Tengah yang didominasi penggilingan skala kecil sebanyak 92,88%, skala menengah 7,02% dan skala besar 0,10%,”.

Produksi jagung di Sulteng tercatat 114 ribu ton dan menempati posisi keempat di Sulampua (share 4,05%). Tiga kabupaten penghasil jagung di Sulteng yaitu, Touna (37 ribu ton), Sigi (27 ribu ton), Parigi Moutong (20 ribu ton).

Komoditas unggulan lainnya, di antaranya durian. Sulteng tercatat mampu memproduksi 63 ribu ton durian dan menempati urutan kedua di  Sulampua dengan kontribusi 23,15%. Sementara Cengkeh, Sulteng tercatat pada urutan 1 nasional dengan total produksi mencapai 23,3 ribu ton. Tiga kabupaten penghasil cengkeh di Sulteng yaitu Tolitoli (13 ribu ton), Parigi Moutong (1,9 ribu ton), Donggala (1,5 ribu ton), serta kabupaten lainnya (6,2 ribu ton).

Terakhir, pada sektor perikanan dan kelautan. Perikanan tangkap Sulteng menempati urutan 4 nasional dengan total produksi 433 rib ton dan berkontribusi sebesar 5,54 secara nasional. Tiga kabupaten tertinggi produksi di subsektor perikanan tangkap yaitu, Donggala (193 ribu ton), Tolitoli (48 ribu ton), Parigi Moutong (39 ribu ton). (red/teraskabar)