Runway Bandara Maleo Ditambah, Bukti Pj Bupati Rachmansyah Berpikir Out Of The Box

Morowali, Teraskabar.id – Landasan pacu (Runway) Bandara Maleo Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) akan ditambah 600 meter agar bandara tersebut bisa menambah kapasitas pesawat dan penumpang.

Landasan pacu Bandara Maleo yang semula 1.300 meter dan hanya didarati pesawat ATR, tapi dengan penambahan panjang landasan menjadi 1.900 meter, diharap sudah bisa didarati pesawat jenis Boeing.

Penambahan runway Bandara Malaeo ini menyikapi antusiasme investor yang ingin berinvestasi di Kabupaten Morowali. Sebagai daerah yang kaya akan hasil tambang, upaya menggenjot dunia industry pertambangan harus ditunjang dengan fasilitas bandara yang memadai.

Baca jugaPesawat Jet Membawa Empat WNA Keluar dari Landasan Pacu Bandara Morowali

Sedangkan selama ini Bandara Maleo hanya didarati pesawat jenis ATR dengan kapasitas penumpang 25-35 penumpang. Pesawat berbadan lebar belum bisa tinggal landas karena kapasitas runway belum mendukung.

Sehingga, Penjabat Bupati Morowali Ir. H. Abdul Rachmansyah Ismail, M.Agr, MP berupaya mencari solusinya agar pesawat jenis Boeing bisa mendarat di Bandara Maleo. Upaya menambah kapasitas pesawat dan penumpang di Bandara Maleo dengan estimasi anggaran Rp80-an Miliar, tanpa mengganggu postur APBD.

“Di sini terlihat kemampuan manajerial Pak Rachmansyah Ismail yang mampu melobi pihak swasta untuk bisa ambil bagian dalam membangun Kabupaten Morowali. Ini juga memperlihatkan bahwa Penjabat Bupati Morowali Rachmansyah Ismail berpikir out of the box atau kemampuan menghasilkan suatu ide yang tak biasa,” kata Sekretaris Fraksi  Bintang Persatuan DPRD Morowali, Aminudin Awaludin mejawab media ini, Rabu malam (12/6/2024) melalui pesan WhatsApp.

Aminudin mengungkapkan, Pj. Bupati Rachmansyah mencoba melobi PT  Baoshuo Taman Industry Invesment Group (PT. BTIIG) untuk membantu pembangunan Runway sepanjang 600 meter, dengan harapan pesawat jenis boeing dapat mendarat di Bandara Maleo.

“Tidak tanggung – tanggung biaya pembangunan runaway sepanjang 600 meter itu mencapai kurang  lebih Rp, 82 miliiar. Tentunya sudah termasuk pengadaan timbunan material dan pengaspalan,” kata Aminudin.

Runway Bandara Maleo Ditambah, Tanpa Kucuran APBN

Keterlibatan pihak swasta dalam hal ini PT BTTIG mendanai pembangunan tambahan runway Bandara Maleo, murni karena ingin turut serta membangun daerah tempat mereka berinvestasi. Walau perusahaan tersebut belum lama beroperasi di Kabupaten Morowali.

Menjawab mengenai bantuan PT. BTTIG adalah bagian dari tanggungjawab sosial atau Corporate Social Responsilibity (CSR). Menurut legislator yang memasuki periode ke empat mewakili PBB di DPRD Kabupaten Morowali itu, CSR hanya diberlakukan bagi perusahaan yang sudah berproduksi. Sedangkan BTIIG adalah kawasan industry pertambangan yang sementara dalam mengurus kesempurnaan dokumennya.

Baca jugaAnggaran Tak Ditambah Pusat, 4000 Formasi PPPK di Sulteng Dibebankan ke Pemprov

“Aturannya daerah belum punya hak untuk meminta CSR, itu kalau mau bicara regulasi, tapi Pj bupati Morowali bapak Rachmansyah Ismail mencoba  membangun komunikasi terhadap pihak perusahaan, agar pihak BTIIG mau membangun penambahan runaway bandara kita, karena kalau kita mau tunggu APBN untuk bangun bandara kita, sampai kapan akan dibangun,” kata anggota komisi II (Ekonomi dan Keuangan) DPRD Morowali.

Ketua DPC Partai Bulan Bintang Morowali itu menegaskan, sebagai daerah industri dan pertambangan, tentunya fasilitas bandara udara sangat dibutuhkan sebagai sarana penunjang investasi di Kabupaten Morwali.

Rencananya, pembangunan tambahan runway akan selesai pada bulan Desember 2024 dan pesawat jenis Boeing sudah bisa mendarat di Bandara Maleo.

“Apakah ini bukan sebuah prestasi seorang Pj Bupati Rahmansyah  yang baru 8 bulan memimpin Morowali tapi sudah mampu menghadirkan penambahan runaway dengan anggran Rp82 miliar hasil upaya komunikasi lobi yang dibangun dengan  pihak PT. BTIIG,” ujar Aminudin.

Pembangunan Runway Bandara Memicu Aksi Protes Warga

Saat proyek runway Bandara Maleo mulai dilaksanakan yaitu pada proses penimbunan lokasi pembangunan, sempat memicu aksi protes dari warga sekitar.  Masyarakat Dusun Folili, Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, memasang palang penghalang sebagai bentuk protes  atas lahan yang berfungsi sebagai akses jalan umum yang dilalui dum truk pengangkut material timbunan pembangunan proyek runaway bandara.

Bagi politisi PBB Kabupaten Morowali itu, aksi yang dilakukan oleh warga tersebut hanya karena miskomunikasi. Sebab masyarakat menganggap Pemerintah Kabupaten Morowali  telah menyerahkan lahan tersebut kepada PT. BTIIG.

“Padahal hanya pinjam pakai sebagai akses mengangkut material ke lokasi proyek pembangunan runaway bandara Maleo,” kata Aminudin.

Pj Bupati Kabupaten Morowali, Ir. H Rachmansyah Ismail, SP., M.Agr, MP, melalui Kepala Dinas PU Rustam Sabalio, menegaskan bahwa aksi pemalangan tersebut terjadi akibat miskomunikasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak perusahaan.

Baca jugaPendaftaran Digiland Run 2024, Lebih dari 4.000 Tiket Flash Sale dan Early Bird Sold Out dalam Sehari

Rustam menjelaskan bahwa status lahan yang berfungsi sebagai akses jalan umum tersebut hingga kini masih berstatus aset daerah, sehingga tudingan bahwa pemerintah telah menyerahkan lahan tersebut kepada perusahaan adalah tidak benar.

Rustam juga menyebutkan bahwa penggunaan fasilitas daerah oleh PT BTIIG saat ini mempunyai dasar atau alasan.  Pemkab Morowali memberikan dispensasi kepada perusahaan untuk menggunakan jalan tersebut, karena PT. BTIIG telah membantu pemerintah dalam penimbunan perluasan kawasan Bandara Maleo.

“Perusahaan telah membantu pemerintah memperluas kawasan bandara kita, sehingga diberikan dispensasi untuk penggunaan jalan sebagai jalur pengangkutan material timbunan menuju Bandara Morowali. Jika dihitung, bantuan dari perusahaan ini untuk perluasan kawasan bandara sangat besar nilainya,” kata Rustam.

Rustam mengatakan bahwa perluasan kawasan Bandara Maleo akan memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Dispensasi ini diberikan untuk kesejahteraan masyarakat. Jika bandara semakin luas, otomatis aktivitas di sana akan semakin ramai dan masyarakat dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan perekonomiannya,” sebutnya. (red/teraskabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *